Jepang Bangun Perpustakaan ”Endang Bunko” di Pangenan

February 5th, 2012 @

CIREBON - Satu sudut lapang di area SDN Ender II Kecamatan Pangenan, Kabupaten Cirebon, dipadati warga sekolah sejak pagi hari. Sebuah panggung dinaungi tenda berdiri sederhana. Radar yang datang ke lokasi pukul 07.30 terperangah melihat sebuah sedan bernopol CD 49 11. Plat CD menunjukan mobil diplomat kedutaan asing. Mungkin tak heran bila mobil seperti itu bersliweran di jalanan ibu kota. Tapi ini? Di sebuah desa di timur Cirebon.

Ternyata mobil itu digunakan Third Secretary Information and Culture kedutaan besar Jepang untuk Indonesia, Mr Takayuki Kawai. Ia mewakili Duta Besar Jepang untuk Indonesia, Kojiro Shiojiri, menghadiri peresmian perpustakaan “Endang Bunko” di SDN II Ender.

Sejak acara dimulai, baru Radar dan reporter The Daily Jakarta Shimbun, Yasuhiro Okasaka yang meliput. Hadir di tempat yang sama pembuat film Mas Endang Miyuki Inuoe, dan 15 orang kaum ibu serta anak muda Jepang anggota Jakarta-Japan Networking (J2Net). Mereka adalah istri-istri staf kedubes Jepang di Indonesia dan istri pengusaha Jepang yang beraktivitas di Indonesia. “Ini kedatangan saya kedua ke Cirebon. Sebelumnya, tahun lalu saya sempat berkeliling di Kota Cirebon,” kata Takayuki dengan bahasa Indonesia aksen Jepang.

Kepala SDN Ender II, Hj N Amanah SPd mengaku salut atas upaya Miyuki yang membuat film tentang kematian Endang, warga Desa Ender Kecamatan Pangenan di Jepang. Film itu disambut hangat penonton hingga mengucurkan banyak sumbangan bagi mereka yang berhubungan dengan Endang di Indonesia. Di antaranya SDN II Ender dimana Endang alumnus tahun 1999. SD yang terletak di jalan arah masuk Pesantren Gedongan tersebut mendapat sumbangan pembangunan sebuah gedung perpustakaan berikut isi. “Nilai bangunannya sekitar Rp300 juta,” terang Amanah seraya menyebutkan perjuangan Miyuki sangat mulia dan gadis Jepang itu dianggap termasuk pahlawan tanpa tanda jasa. (Baca juga: Miyuki Inuoe, warga Jepang Pembuat Film “Mas Endang” di halaman ini)

Miyuki serius dengan pen­di­rian gedung “Endang Bun­ko”. Ia menjelaskan bunko adalah bahasa Jepang untuk perpustakaan kecil. Maka tak tangung-tanggung, 2 arsitek dari Jepang dipercaya untuk membangunnya. Ada Ikko Kobayashi dan asisten profesor dari Tokyo University of the arts Fumi Kashimura. Mereka menyelesaikan pembangunan selama 6 bulan. “Bangunan ini mengadopsi gaya Terakoya,” ujar Ikko seraya menjelaskan Terakoya adalah sekolah rakyat masa Jepang sebelum moderen di era 1800-an yang berada di lingkungan kuil.

Bangunan “Endang Bunko” seluas 8,4 x 8,4 meter sekelilingnya dibuat dari beton dengan banyak jendela di tiap sisi. Atap menggunakan kayu dan anyaman bambu dimanfaatkan sebagai eternit. Pintu masuk utama merujuk konsep pintu geser khas rumah tradisionil Jepang. Tak hanya bagian luar yang bercita-rasa Jepang. Bagian dalam terlihat lebih kentara. Sebuah sudut cukup luas digunakan untuk membaca secara lesehan. Sementara furnitur rak buku dilapisi anyaman bambu.

Ayah Endang, H Mamat Was­ji (52) dan ibu Hj Saeni (48), mengaku terharu dengan perhatian warga Jepang terhadap kepergian puteranya 4 tahun lalu. Atas film Mas Endang yang dibuat Miyuki, Mamat sempat diundang secara khusus oleh pemerintah Jepang pada 2008. Di Tokyo, Mamat menyaksikan pemberian penghargaan gelar pahlawan dari pemerintah Jepang untuk Endang. Pada 2009, sisi lain keluarga Mamat setelah diting­gal anak kedua dari tiga ber­saudara makin mengemuka, sebab hadir di acara talkshow Kick Andy. “Apa yang dikatakan Miyuki ingin memberi bantuan, di antaranya terwujud lewat pem­ba­ngunan perpustakaan ini,” kata lelaki yang berprofesi petani itu.

Dalam sambutannya, perwa­kilan Dubes Jepang Mr Takayuki mengungkapkan, semoga apa yang telah dilakukan Endang dengan berkorban diri menolong orang lain bisa menjadi inspirasi kebaikan bagi semua. Ia ber­ha­rap perpustakaan yang didirikan mampu meningkatkan kecer­dasan adik-adik kelas Endang. “Kami orang Jepang terbiasa de­ngan budaya membaca. De­ngan membaca akan menambah ilmu dan wawasan,” tuturnya.

Acara peresmian berakhir pukul 12.00. Anggota J2Net unjuk kebolehan menghibur hadirin dengan menyuguhkan teater boneka gaya Jepang. Sebelumnya, Senin malam (28/3), anggota J2Net membaur bersama masyarakat sekitar SDN II Ender, bersama menyaksikan pemutaran film Mas Endang.

TAK TERPENGARUH TSUNAMI

Sebuah komitmen luar bia­sa, ketika negeri dirundung mu­­sibah, warga Jepang di In­do­nesia khususnya yang ber­tugas di Kedubes Jepang te­tap menjalankan pekerjaan se­baik mungkin. “Tidak ada yang pulang ke Jepang. Semua masih bekerja di Indonesia,” kata Third Secretary Information and Culture kedutaan besar Jepang untuk Indonesia, Mr Takayuki Kawai, menjelaskan staf Kedubes termasuk Dubes Jepang untuk Indonesia Kojiro Shiojiri, masih tetap di Indonesia pasca bencana tsunami menghantam Jepang 11 Maret lalu.

Takayuki sendiri memiliki keluarga besar di Tokyo. Jadi tak terkena dampak bencana gempa dan tsunami yang parah. “Tapi kalau ekses seperti listrik sering mati saat ini di Tokyo, keluarga saya pasti mengalami,” ujar lelaki berkacamata itu. Ditanya soal tsunami, Takayuki mengangguk-angguk tanda penghormatan khas Jepang pada Radar. “Terima kasih, terima kasih,” katanya memaksudkan pertanyaan tentang tsunami dirasakan seba­gai bentuk perhatian. (ron)

sumber berita :  RadarCirebon.com

Lomba Bercerita Tingkat SD

February 4th, 2012 @

Sumber - Sudah biasa saat kita mendengarkan orang tua membacakan cerita kepada anak-anaknya, namun kali ini berbeda, anak-anak yang diminta bercerita kepada orang tua dan teman-teman sebaya, juga di hadapan para juri.

Wajah lucu dan lugu anak-anak, satu-satu mulai bercerita ketika dipanggil nomor urut. Setiap siswa yang bercerita menunjukkan mimik muka masing-masing sesuai dengan apa yang diceritakannya. Bahkan ada juga yang seperti menghafal dan terlihat tegang.

Ada yang bercerita menggunakan bahasa Indonesia bahkan juga ada yang lancar menggunakan bahasa Inggris. Cerita yang dibawakan pun bermacam-macam dari cerita anak-anak, dongeng, cerita daerah.

Mereka merupakan siswa yang mengikuti lomba bercerita bagi siswa SD se Kabupaten Cirebon yang diselenggarakan oleh Kantor Perpustakaan Umum Daerah Pemkab Cirebon (9-10 Mei 2010). Ada 57 peserta dari 52 sekolah yang ikut.

Sikap, bahasa, kelancaran bercerita, ekspresi mereka dinilai oleh tiga orang juri dari dinas Dikpora Pemkab Cirebon.

Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan minat baca dan mengangkat budaya Jawa Barat khususnya Cirebon.” Yang menang akan mengikuti lomba di Provinsi bulan Juli hanya untuk juara 1 dan 2, jika mereka menang di tingkat provinsi akan dikirim mewakili Jawa Barat ke tingkat Nasional, ” kata kepala kantor perpustakaan Umum Daerah Pemkab Cirebon  Drs. Hafidz Iswahyudi, Senin (9/5/2011).

7 Penyebab Rendahnya Minat Baca

February 4th, 2012 @

Bacalah dengan nama Tuhanmu , yang telah menjadikan manusia dari segumpal darah . Bacalah lah dan Tuhanmu sangat pemurah , yang telah mengajarkan manusia dengan pena , yang telah mengajarkan manusia tentang apa yang tidak diketahuinya “

Mengapa orang-orang (baik anak-anak maupun dewasa) Indonesia kurang berminat membaca? Padahal jika dicermati penerbitan buku, majalah maupun koran sangat meningkat. Tetapi sayang, minat ini hanya terbatas pada membaca koran dan majalah. Sedangkan minat baca yang dimaksud tentunya juga membaca buku yang memuat pengetahuan yang menyebabkan masyarakat suatu negeri memiliki penduduk yang cerdas dan mampu bersaing setaraf dengan masyarakat negeri lain di bidang apa saja didunia internasional.

Mengapa minat baca di Indonesia dikatakan rendah? Ada banyak teorinya.

Pertama, sistem pembelajaran belum memuat anak-anak, siswa, dan mahasiswa harus membaca buku (lebih banyak lebih baik), mencari informasi atau pengetahuan lebih dari apa yang diajarkan, mengapresiasikan karya-karya ilmiah, filsafat, sastra, dan sebagainya.

Kedua, banyaknya jenis hiburan, permainan (game) dan tayangan TV yang mengalihkan perhatian anak-anak dan orang dewasa dari buku, surfing di internet walaupun yang terakhir ini masih dapat dimasukkan sebagai sarana membaca. Hanya saja apa yang dapat dilihat di internet bukan hanya tulisan tetapi hal-hal visual lainnya yang kadangkala kurang tepat bagi konsumsi anak-anak. Nah, bagi orang tua seharusnya mengarahkan hal-hal segi positif dari internet itu.

Ketiga, banyaknya tempat hiburan untuk menghabiskan waktu seperti taman rekreasi, tempat karaoke, night club, mall, supermarket.

Keempat, budaya baca memang belum pernah diwariskan nenek moyang kita. Kita hanya terbiasa mendengar berbagai dongeng, kisah, adat-istiadat secara verbal dikemukakan orang tua, nenek, dan tokoh masyarakat.

Kelima, para ibu orang tua kita senantiasa disibukkan berbagai kegiatan, serta membantu mencari tambahan nafkah untuk keluarga. Sehingga tiap hari waktu luang sangat minim bahkan hampir tidak ada untuk membantu anak membaca buku dan belajar, hanya karena disibukkan urusan pribadi masing-masing.

Keenam, sarana untuk memperoleh bacaan, seperti perpustakaan atau taman bacaan, masih merupakan barang aneh dan langka.

Ketujuh, mempunyai sifat malas yang merajalela dikalangan anak-anak maupun dewasa untuk membaca dan belajar demi kemajuan diri masing-masing untuk menambah ilmu pengetahuan.

Dari sekian banyak penyebab rendahnya minat baca, semuanya kita kembalikan pada diri pribadi masing-masing untuk menyadari betapa penting manfaat dari membaca itu sendiri, dari poin pertama hingga terakhir itu tidak akan menjadi kendala kita untuk menumbuhkan sifat membaca dan mewariskannya.

Jika anda sudah mengetahui beberapa penyebab rendahnya minat baca. Kemudian anda merasa selalu sulit belajar ?? Bacalah Cara Belajar Efektif dan Menyenangkan, disini.

Semoga Bermanfaat :D


Recent Comments